I Love You Mom!

Font size: Decrease font Enlarge font

Hari ini tepat tanggal 22 Desember, Indonesia merayakan hari spesial sebagai hari Ibu. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan hari Ibu adalah hasil keputusan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Di beberapa negara hari Ibu atau lebih dikenal dengan Mother’s Day dirayakan pada hari Ahad di pekan kedua bulan Mei. Dan di belahan negara lain hari Ibu diperingati pada setiap tanggal 8 Maret. Terlepas dari boleh tidaknya merayakan hari ibu, Islam memerintahkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya, terlebih kepada ibunya.

Untuk berbuat baik kepada ibu tidak hanya diperlukan sehari saja dalam setahun, tetapi seorang ibu harus selalu dihormati, dipelihara, diperhatikan, dan ditaati perintahnya oleh anak-anaknya, selama tidak untuk menyekutukan Allah SWT di sepanjang zaman dan di segala tempat. Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah SWT berfirman (yang artinya):

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Dari ayat di atas disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Oleh karena itu, kebaikan kepada ibu adalah tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah (yang artinya):

“Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Datang seseorang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ’Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi SAW menjawab, ’Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi SAW menjawab, ’Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ’Ibumu!’, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ’Nabi SAW menjawab, ’Bapakmu’ ” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:

“Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo’akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ’Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 (yang artinya):

“(Akan dikatakan kepadanya), ’Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya”.

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.

Adapun yang dapat kita lakukan untuk berbuat baik dan berbakti kepada ibu atau kedua orang kita adalah dengan membuat bahagia dan gembira orang tua kita, berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut, bersikap tawadhu/ rendah diri dan tidak berbuat sombong terhdap keduanya, serta senang memberikan infak/ shadaqah kepada kedua orang tua kita, dan tidak lupa untuk senantiasa mendo’akan kedua orang tua kita.

Apabila orang tua kita telah tiada, maka yang dapat kita lakukan adalah memohon ampun kepada Allah SWT apabila kita pernah berbuat durhaka kepada kedua orang tua sewaktu mereka masih hidup, mensholatkan ketika orang tua meninggal, senantiasa mendo’akan dan memintakan ampun kepada Allah SWT untuk kedua orang tua, membayar hutang-hutangnya, melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syariat, dan menghormati sahabat dan menjalin hubungan silaturahmi dengan keluarganya.

Begitulah seharusnya seorang anak berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua baik selagi masih hidup maupun sudah tiada khususnya kepada ibu yang dengan susah payah telah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Setiap saat, setiap tahun, tanpa putus seorang anak harus senantiasa berbakti kepada ibu bapaknya. Bukan malah hanya memperingati hari Ibu dengan perayaan yang meriah yang hanya sebagai seremonial belaka tanpa menunjukan rasa hormat dan bakti yang sejati kepada orang tua khususnya kepada ibu kita.

Sekarang kita ketahui bersama apa arti penting dan keutamaan berbakti pada orang tua. Kita ingat kembali, betapa sering kita membuat marah dan membuat menangis orang tua? Betapa sering kita membangkang dan tidak melaksanakan perintah-perintahnya? Memang tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Alloh, akan tetapi bagaimana sikap kita dalam menolak itupun harus dengan cara yang baik tidak serampangan. Bersegeralah kita meminta maaf pada keduanya lebih-lebih kepada ibu kita. Sesungguhnya keridhoan Alloh tergantung kepada kerdihoan orang tua dan kemurkaan Alloh tergantung kepada kemurkaan orang tua.

“Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ibu bapakku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil”.

And the last but not least, I LOVE YOU MOM!, how do I tell you the love I have for you…..

Image from http://www.primaironline.com/

Hari ini tepat tanggal 22 Desember, Indonesia merayakan hari spesial sebagai hari Ibu. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan hari Ibu adalah hasil keputusan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Sedangkan di beberapa negara hari Ibu atau lebih dikenal dengan Mother’s Day dirayakan pada hari Ahad di pekan kedua bulan Mei. Dan dibeberapa negara lain hari Ibu diperingati di setiap tanggal 8 Maret. Terlepas dari boleh tidaknya merayakan hari ibu, Islam memerintahkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya, terlebih kepada ibunya.

Untuk berbuat baik kepada seorang ibu tidak hanya diperlukan sehari saja dalam setahun, tetapi seorang ibu harus selalu dihormati, dipelihara, diperhatikan, dan ditaati perintahnya oleh anak-anaknya, selama tidak untuk menyekutukan Allah SWT di sepanjang zaman dan di segala tempat.

Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah SWT (yang artinya):

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Dari ayat di disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Oleh karena itu, kebaikan kepada ibu adalah tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah (yang artinya):

“Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Datang seseorang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ’Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi SAW menjawab, ’Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi SAW menjawab, ’Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ’Ibumu!’, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ’Nabi SAW menjawab, ’Bapakmu’ ” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:

“Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo’akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ’Aalamin.

Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 (yang artinya):

“(Akan dikatakan kepadanya), ’Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya”.

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.

Adapun yang dapat kita lakukan untuk berbuat baik dan berbakti kepada ibu atau kedua orang kita adalah dengan membuat bahagida dan gembira orang tua kita, berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut, bersikap tawadhu/ rendah diri dan tidak berbuat sombong kedapa keduanya, serta senang memberikan infak/ shadaqah kepada kedua orang tua kita, dan tidak lupa untuk senantiasa mendo’akan kedua orang kita.

Apabila orang tua kita telah tiada, maka yang dapat kita lakukan adalah memohon ampun kepada Allah SWT apabila kita pernah berbuat durhaka kepada kedua orang tua sewaktu mereka masih hidup, mensholatkan ketika orang tua meninggal, senantiasa mendo’akan dan memintakan ampun kepada Allah SWT untuk kedua orang tua, membayar hutang-hutangnya, melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syariat, dan menghormati sahabat dan menjalin hubungan silaturahmi dengan keluarganya.

Begitulah seharusnya seorang anak berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua baik selagi masih hidup maupun sudah tiada khususnya kepada ibu yang dengan susah payah telah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Setiap saat, setiap tahun, tanpa putus seorang anak harus senantiasa berbakti kepada ibu bapaknya. Bukan malah hanya memperingati hari Ibu dengan perayaan yang meriah yang hanya sebagai seremonial belaka tanpa menunjukan rasa hormat dan bakti yang sejati kepada orang tua khususnya kepada ibu kita.

Sekarang kita ketahui bersama apa arti penting dan keutamaan berbakti pada orang tua. Kita ingat kembali, betapa sering kita membuat marah dan membuat menangis orang tua? Betapa sering kita membangkang dan tidak melaksanakan perintah-perintahnya? Memang tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Alloh, akan tetapi bagaimana sikap kita dalam menolak itupun harus dengan cara yang baik tidak serampangan. Bersegeralah kita meminta maaf pada keduanya lebih-lebih kepada ibu kita. Sesungguhnya keridhoan Alloh tergantung kepada kerdihoan orang tua dan kemurkaan Alloh tergantung kepada kemurkaan orang tua.

“Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ibu bapakku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil”

 
Leave a Reply

May be you are interested in:



Post Your Comments

PLEASE DO NOT SPAM


*): Nama dan Email wajib diisi, email tidak akan dipublikasikan.

 
 
All the texts, images and tutorials themselves are copyright their respective owners. If you find any abuse, copyrighted, or illegal contents, please feel free to report us.
data recovery