Senyum Bersama Pembeli Darah dan Tukang Becak
Pemerintah Republik Indonesia tercinta baru saja menaikan tarif dasar listrik (TDL) pada bulan ini, Juli 2010. Kenaikan TDL ini hampir berbarengan dengan masuknya bulan suci Ramadhan dan Syawal, di mana menjelang bulan-bulan tersebut harga kebutuhan pokok alias sembako biasanya naik. Apalagi ditambah dengan naiknya TDL yang akan semakin memberi dampak pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok.
Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, kenaikan listrik dan harga kebutuhan pokok tentu akan sangat memberatkan, terutama dari kalangan masyarakat menengah ke bawah. Tidak heran bila banyak masyarakat yang tidak kuat menghadapi cobaan ini akan merasa stress dan bahkan bisa menyebabkan kegilaan.
Namun, kali ini tidak membicarakan tentang hal tersebut, tetapi mencoba mengajak senyum sejenak untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi stress dan tekanan dalam kehidupan yang terasa semakin berat saja. Senyum bersama seorang pembeli darah dan tukang becak. Mudah-mudahan terhibur.
Pembeli Darah
Suatu hari, seorang pria yang terkenal sangat pelit, Ramsya, mengalami kecelakaan dan luka yang dideritanya cukup parah. Darahnya pun bercucuran.
Beruntung, saat itu temannya, Ali, sedang melintas di jalan tersebut dan berniat hendak menolong Ramsya. Terjadilah percakapan antara Ramsya dan Ali.
Ramsya: “Tolong…! Aku luka parah, darahku mengalir bercucuran.”
Ali: “Apakah kau butuh ambulans?”.
Ramsya: “Tidak, aku hanya ingin ada orang yang mau membeli darahku yang bercucuran ini”.
Reff: Solopos, 19 Januari 2007
Tukang Becak
Seorang turis dari Amerika Serikat berkunjung ke Solo, Jawa Tengah. Dia mendengar bahwa di Solo paling enak naik becak keliling kota. Singkat cerita dia menemukan becak yang sedang kosong alias tidak berpenumpang. Dan terjadilah percakapan antara tukang becak dengan turis tersebut.
Turis: ”Can you speak english?”
Tukang Becak: “Apa? Mesjid Inggris tuan?”
Turis: “What?”
Tukang Becak: “Kuat dong.”
Turis: “Are you crazy?”
Tukang Becak: “Ah… tuan bisa aja. Saya kelahiran Klaten bukan Bekasi.”
Turis: ”Hmm… How much?”
Tukang Becak: ”Saya bukan Amat, saya Wan Dullah.”
Turis: ”What? One Dollar? OK, let’s go!”
Reff: Solopos, 17 November 2006
Recommended Sites
Follow Discussion 2 Responses



















frosty says:
28 July 2010 at 15:21
apa yg bisa kukatakan mr.Ozzy??? buat humor yg banyak dong…! ntar komen berikutnya bakal jadi gini neeh…=
“……………….”
soalnya sudah sakit perut kebanyakan ketawa…
Ozzy el Hooda says:
28 July 2010 at 15:42
@frosty: kalo sakit perut ya periksakan ke dokter dong, ha…ha…