Kisah Inspiratif: Indahnya Sebuah Persahabatan

Font size: Decrease font Enlarge font

“Uhh!!” keluhku sambil melempar HP bututku ke meja kecil bercat putih bersih.

“Kenapa giliran aku yang dirawat mereka tidak peduli ya?! Padahal jika ada yang sakit akulah yang merawatnya”. Hatiku terus menggerutu kesal pada teman satu kosku yang tak nampak batang hidungnya selama aku dirawat di RSUD Yogyakarta ini.

Mereka hanya menjenguk waktu hari pertama aku masuk rumah sakit. Setelah itu, jangankan menjenguk, nanya kabar lewat SMS pun tidak. Bahkan yang lebih menjengkelkan, nomor hape mereka tidak ada yang bisa dihubungi.

Aku seorang mahasiwa semester V di Fakultas Syariah UIN Yogyakarta. Dan aku tinggal satu kos dengan lima orang sahabat karibku. Mereka adalah Hadi, Nurdin, Hasan, Andi, dan Haris. Kami kuliah di Fakultas dan Universitas yang berbeda. Hadi kuliah di Fakultas HI (Hubungan Internasional) UGM, Nurdin di Teknik Sipil UII, Andi di FISIP Universitas Syailendra, dan Haris Kuliah di Fakultas Sains dan Teknologi Unmuh.

Meski berbeda fakultas dan kampus, kami sangat akrab dan kompak. Ya, mungkin karena beberapa kesamaan yang melatarbelakangi sehingga kami bisa hidup bersama sepereti saudara. Kami sama-sama mahasiswa, sama-sama jauh dari kampung halaman dan sama-sama berasal dari keluarga yang berekonomi pas-pasan. Kami bisa kuliah karena semua dari kami mendapat beasiswa. Ada yang dapat beasiswa dari Diknas, ada yang Pemda, ada pula yang perusahaan swasta.

Kecelakaan di jalan Flamboyan minggu yang lalu harus membuatku tergeletak di rumah sakit. Patah tulang pada kaki sebelah kanan membutuhkan perawatan agak lama dan membutuhkan biaya yang agak besar. Dan semua biaya itu harus kutanggung sendiri karena aku adalah korban tabrak lari. Pengendara mobil sedan berwarna hitam metalik itu membiarkanku tergeletak tak berdaya di jalan raya setelah aku jatuh dari sepedaku karena tersenggol mobilnya.

Rumah sakit hening, semua pasien yang dirawat sebangsal denganku tertidur lelap. Hanya sesekali terdengar derap langkah anggota keluarga yang menengok ke dalam bangsal lalu keluar lagi. Sepasang mataku belum terpejam, kutatap langit-langit ruangan dengan pandangan hampa. Mataku sulit terpejam karena otakku sedang penuh dengan beban pikiran. Bukan beban karena rasa sakit yang kuderita tapi beban akan biaya rumah sakit.Aku coba mengkalkulasi, kuperkiran membutuhkan biaya lebih dari 5 juta rupiah. Aku bingung, dari mana aku dapatkan uang sebesar itu. Untuk minta pada emak di kampung aku tidak tega karena aku yakin emak tidak punya uang sebanyak itu. Keseharian emak hanya memperoleh uang dari hasil menjahit pakaian dan sedikit dari hasil panen sepetak sawah warisan dari bapak yang tidak begitu luas. Kalo aku bilang pada emak ujung-ujungnya emak pasti menggadaikan atau bahkan menjual sepetak tanah tersebut. Karena itu aku bahkan tidak mengabari emak.

”Rif, tolong belikan obat di Apotik ya ! Ini resepnya” Pintaku pada Arif yang duduk di sebelahku sambil kusodorkan resep dan tiga lembar uang ratusan ribu kepadanya.

”Ya ustadz !” Jawabnya singkat sambil beranjak dari tempat duduknya lalu pergi untuk beli obat. Dia memanggilku ustadz karena setiap ba’da Maghrib ia mengaji kepadaku bersama teman-temannya di Mushola sebelah kos-kosan. Dia dan teman-temannyalah yang menjagaku selama di rawat di RS ini.

Sudah 12 hari aku dirawat. Kata dokter yang memeriksaku, besok aku sudah diperbolehkan pulang. Perasaan gembira dan suntuk bercampuraduk. Suntuk karena besok sebelum pulang aku harus melunasi semua administrasiku di RS. Sedangkan sekarang aku sedang tidak punya uang sama sekali. Satu jutah rupiah dari honor bikin tulisan dari sebuah majalah telah habis untuk membeli obat.

”Dari mana akan kudapatkan uang ya ?” Apa aku harus pinjam pada haji Thoha pemilik Musholla itu? Tidak ah !!!” Beliau sudah banyak membantuku. Waktu awal aku dirawat beliau telah memberiku amplop berisi uang satu juta, ditambah lagi tiap hari selalu menjatah makanan buatku dan anak-anak yang menjagaku, dan itupun beliau sendiri yang mengantarkan makanan ke sini. Lalu pinjam kepada siapa ya? Ah andaikan teman-temanku ada di sini mereka pasti bisa membantu mencarikan pinjaman. Tapi sayang, mereka adalah teman-teman yang tidak punya rasa kesetiakawanan, dengan membiarkanku melalui hari-hari di Rumah Sakit tanpa mau menjenguk.

”Assalamu’alaikum !!” Tiba-tiba ucapan salam yang diucapkan beramai-ramai membuyarkan lamunanku.

”Wa’alaikum Salam !!” Jawabku spontan.

Di depan pintu nampak Hadi dan Haris serta Nurdin, Hasan dan Andi di belakangnya. Mereka masuk sebelum kupersilahkan masuk.

”Gimana nih aktifis yang ustadz ini katanya besok udah boleh pulang? Wah bakal rame lagi nih kantor HMI ma Musholla sebelah rumah !” Tanya dan celoteh mereka ramai.

”Ya, besok Insya Allah. Hei, tapi kalian dari mana aja? Pada kurang ajar ya. Ada teman jadi penghuni Rumah Sakit, eh malah ditinggal keluyuran tanpa kabar”.

”Santai dulu, friend! Kamu dengar dulu penjelasan kami !” Sergah Andi sambil senyum.

Akhirnya mereka cerita kalau menghilang selama ini 10 hari ini adalah untuk meminjam duit.

Mereka membuka stand soto Lamongan di event pekan raya di alun-alun Kota Jogja. Kebetulan Hasan dan Andi adalah anak Lamongan yang tentunya jago pula masak soto Lamongan yang terkenal lezat dan enak itu. Tak heranlah jika stand mereka diserbu pembeli sehingga dalam tempo sepuluh hari mereka bisa mengumpulkan lama 5 juta rupiah. Dan semua uang itu mereka pakai untuk membayar biayaku di Rumah Sakit ini.

”Nih kwitansi pembayaran RS, jadi besok kamu langsung bisa pulang !”, kata Andi sambil menyodorkan kwitansi padaku. Kulihat tangan Andi diperban warna putih.

”Kamu kenapa, An?” Tanyaku.

”Ah, gak papa, Cuma kesiram air panas waktu masak. Cuma luka ringan” Jelasnya.

”Masya Allah !” ternyata selama ini aku sudah su’udzon pada sahabatku. Padahal mereka telah bekerja keras, susah payah untuk membantuku membayar biaya RS ini. Bahkan sampai ada yang terluka kesiram air panas.

”Astagfirullahal ”Adzim. Maafkan aku sahabat !”

(Ibn Fallah/ Himmah FM Yaman)

 

  • BERBAGI DENGAN TEMAN:

 
Leave a Reply

May be you are interested in:



Post Your Comments

PLEASE DO NOT SPAM


*): Nama dan Email wajib diisi, email tidak akan dipublikasikan.

 
 
All the texts, images and tutorials themselves are copyright their respective owners. If you find any abuse, copyrighted, or illegal contents, please feel free to report us.